30 September 2009

JARAK ANTARA HUKUMAN DAN PENGAMPUNAN HANYA SEJAUH KATA MAAF

Para penegak hukum, para korban kejahatan masyarakat, dan juga korban ketidakadilan sosial pasti akan bereaksi keras membaca kalimat judul yang sengaja saya pilih untuk tulisan ini. Bagaimana mungkin jarak antara hukuman dan pengampunan hanya sejauh kata maaf? Jarak antara hukuman dan pengampunan tidak sedekat itu, melainkan ada yang harus menempuhnya dengan hitungan 5, 10, 30 tahun penjara, atau hukuman seumur hidup. Ada yang sampai berusaha menempuh jarak antara hukuman dan pengampunan itu dengan membiarkan dirinya dihantui rasa bersalah seumur hidup. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah adanya orang-orang yang menyimpan dan menyuburkan dendam hingga 7 turunan pun masih tidak bisa menuju akhir yang namanya pengampunan. Melalui tulisan ini saya ingin sampaikan kabar baik untuk Anda yang sudah lelah menempuh perjalanan dari keadaan orang terhukum menuju orang yang diampuni. Dan sebaliknya, perjalanan dari keinginan menghukum orang lain menuju kesediaan untuk mengampuni mereka.

Perenungan judul tulisan kali ini terjadi ketika saya sedang terlibat konflik dengan seseorang. Situasi yang saya hadapi adalah bahwa kami tidak bertegur sapa, dan tidak melakukan komunikasi dalam bentuk apa pun. Biasalah... dalam keadaan normal saja manusia punya kecenderungan untuk melihat kesalahan orang lain daripada menemukan kesalahannya sendiri. Bukan ’penyakit’ baru kok, sebab sejak zaman bahula sudah ada orang-orang yang seperti itu (ups! Bahkan sejak nenek moyang kita, adam dan hawa ). Ngga heran kalau Tuhan pernah menegur keras orang-orang yang punya penyakit kayak gitu, ”Mengapakah engkau melihat selumbar (ctt: semacam serpihan, sangat kecil) di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3) Kembali ke topik kita, nah.. apalagi jika situasinya sedang ada konflik. Wah, penyakitnya bisa makin kambuh!

Saya benar dan dia salah
Itulah yang saya pikirkan dan rasakan. Itu membuat saya tidak berinisiatif untuk memohon maaf, sehingga terjadi ’perang dingin’ untuk sementara waktu. Mungkin dia juga berpikir demikian, dan akhirnya yang sebenarnya terjadi adalah kami saling menunggu.
Dalam situasi seperti ini, saya sama sekali tidak kehilangan kasih sayang saya kepadanya. Bagi saya, walau dia berbuat salah, tetapi bukan berarti seluruh dirinya buruk dan bersalah. Saya tetap memfokuskan diri pada apa yang diperbuatnya (kesalahannya) dan bukan mempersoalkan pribadinya. Saya menunggu dan menunggu dia datang kepada saya dan mengakui kesalahannya dan saya pasti akan segera menyatakan bahwa saya sudah memaafkannya, jauh sebelum dia meminta maaf. Selama dia tidak datang kepada saya dan mengakui kesalahannya, situasi yang mungkin terjadi adalah perang dingin yang berkepanjangan. Dan dia akan merasakan ’hukumannya’ karena tidak lagi bisa bercanda dengan saya, tidak lagi berbagi makanan dengan saya, tidak lagi bisa curhat dan jalan bareng lagi. Hm.. dia akan kehilangan saat-saat indah denganku. Bukan hanya dia yang akan merasakan, tetapi yang lebih menderita adalah saya. Karena saya sudah tidak tahan lagi ada dalam ’perang dingin’. Saya ingin menelponnya, saya ingin bercanda dengannya, saya ingin makan bersamanya, belanja bersama seperti dulu lagi, penuh tawa ceria ketika bertemu. Dan lebih dari itu, saya ingin mengatakan bahwa saya sangat mengasihinya (sama seperti sebelum kesalahan itu terjadi) dan saya tidak mau kehilangan dia dan saat-saat manis bersamanya. Saya ingin dia tahu, walau sepertinya terjadi ’perang dingin’, tapi saya tidak pernah bersikap dingin terhadapnya. Saya terus memperhatikannya, saya membelikan hadiah untuknya, yang sudah tidak sabar untuk saya berikan ketika dia datang menemui saya. Bahkan saya tidak pernah berhenti mendoakannya. Hm.. andai dia tahu.
Keadaanku membuatku teringat akan apa yang Tuhan lakukan buatku dan buat kita semua orang berdosa. Dia tidak pernah bosan menunggu kita datang kepadaNya. Walau saya sering menyakiti hatiNya, Dia selalu mengampuni saya. Sama seperti yang tertulis pada Mikha 7:18: ”Siapakah Allah seperti Engkau, yang mengampuni dosa dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milikNya sendiri; yang tidak bertahan dalam murkaNya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia.” Ibrani 10:17, ”dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.”
Tapi seringkali kita menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Kita mengeraskan hati dan tidak mau mengakui dosa kita, merasa diri benar dan tidak membutuhkan Tuhan. Jika itu yang terus kita pertahankan dalam hidup kita, kita akan merugi besar sekali. Kita akan kehilangan saat-saat indah bersama Tuhan dan hidup dalam neraka kebinasaan. Semua hadiah indah yang Tuhan siapkan tidak akan pernah menjadi bagian orang-orang yang tidak mau datang mengakui dosa dan memohon pengampunanNya.
Syukurlah, pengalaman ini membuat saya kembali diajak menghayati karya Tuhan dalam hidup saya. Saya yang hanya manusia biasa seperti ini saja bisa memiliki kasih dan kerinduan untuk menanti orang yang bersalah kepada saya, ntah bagaimana dengan Tuhan. Kasih dan kerinduanNya sejuta kali lipat (bahkan lebih) dibandingkan yang saya rasakan saat ini. Hhm... saya bersyukur, saya pernah mengalami saat terindah bersamaNya ketika menyadari banyaknya dosa saya dan ternyata masih ada satu Pribadi, yaitu Kristus yang menerima saya dan mengampuni saya. Sehingga sampai dengan hari ini (dan saya percaya untuk seterusnya)... saya menemukan sukacita hidup di dalam Dia yang tidak terkatakan.

Saya salah dan dia benar
Inilah sisi yang lain dalam pergumulan saya ketika dihadapkan pada situasi konflik dan perang dingin dengan orang yang saya ceritakan di atas. Ketika pikiran ini muncul, maka seharusnya yang saya lakukan adalah datang kepadanya dan meminta maaf. Ya, ini yang akan saya lakukan (kalau batas waktu menunggu dia yang saya tetapkan sudah habis sementara dia tak kunjung datang). Jangan samakan saya dengan Tuhan dalam hal ini. Kalau Tuhan akhirnya yang datang menemui kita yang berdosa, bukan karena Dia salah dan kita benar, tetapi karena kasihNya yang luar biasa. Sehingga walau Dia ngga salah, Dia mau diperhitungkan sama dengan kita yang berdosa. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (II Korintus 5:21).
Karena saya manusia biasa, bisa jadi sebenarnya yang membuat dia tidak datang adalah karena saya dinyatakan bersalah olehnya. Dan bila waktunya telah tiba, saya tidak merasakan ada sedikit ganjalan dan ketakutan untuk datang meminta maaf kepadanya. Sebab saya tahu, ia juga mengasihi saya dan akan bersedia memaafkan saya. Itu membuat saya berani datang, seburuk apa pun kesalahan saya di matanya, ia pasti akan tetap memaafkan saya.
Lagi-lagi ini mengingatkan saya akan Tuhan. Harusnya kita yang berdosa, kita tidak perlu takut menghadap Dia. Kita tidak boleh terus merasa terhukum dan tidak mau menghampiriNya. Sebab kasih karuniaNya telah memberikan jalan bagi kita untuk berani menghadap tahtaNya, sama seperti yang tertulis dalam Ibrani 4:16, ”Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya".

Pengalaman saya adalah pengalaman umum yang biasa terjadi dalam relasi antar manusia, dalam konteks hubungan apa pun yang melatarbelakanginya. Karena itu, ketika mungkin Anda pernah ada dalam posisi merasa benar dan menunggu orang lain datang meminta maaf kepada Anda, jadikan itu kesempatan untuk menghayati kasih dan kerinduan Kristus menunggu Anda setiap harinya. Jika itu bisa Anda hayati, maka andai kata orang itu tak kunjung datang meminta maaf, maka pasti Anda tidak akan sanggup menahan diri untuk segera datang dan menunjukkan kasih Anda kepadanya. Jangan menunggu lebih lama lagi...
Bila Anda pernah berbuat salah dan tidak berani mengakui kesalahan Anda. Dan kini relasi Anda menjadi buruk, hidup Anda terganggu dengan rasa bersalah... tidak ada salahnya Anda berani mencoba untuk meminta maaf kepadanya, siapa tahu dia sudah lama menunggu Anda datang. Jangan keraskan hatimu...

Jarak antara hukuman dan pengampunan hanya sejauh kata maaf.
Berilah maaf agar orang lain lepas dari keadaan terhukum.
Memintalah maaf agar Anda beroleh pengampunan.

klik ini untuk baca selanjutnya

GOD dwells in me



Sebenarnya tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya "God is no where - God is now here" ....
Masih tentang acara perenungan subuh dengan para remajaku... sewaktu mereka kembali ke saya dengan membawa benda dan cerita masing-masing bagaimana mereka ketemu Tuhan di sekitar lokasi acara, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, menarik banget sih....tapi ada 1 hal yang bikin saya ngga puas... :(


Mereka ketemu Tuhan melalui hiasan dinding yang berisi ayat-ayat Alkitab, ketemu Tuhan di botol obat, ketemu Tuhan di parkiran, ketemu Tuhan di udara, dll..... Tapi kok....Ngga ada satupun yang bilang menemukan Tuhan dalam diri temannya.... hhmm! Bayangkan betapa indahnya bila ada salah seorang dari mereka yang berkata, "Kak, saya ketemu Tuhan ada di dia!" (bayangan saya adalah sambil ia menunjuk ke salah satu teman mereka). Entahlah! Ngga kepikir atau memang tidak bisa melihat ada Tuhan yang dinyatakan dalam diri teman-temannya, salah satu lah minimal...
Ini membuat saya merenungkan, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah firman Tuhan berkata, "Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang...kamu adalah surat Kristus...!" (2 Korintus 3: 2-3)
Bahkan kalau mau mengingat siapa kita sebenarnya, bukankah sejak permulaan Allah telah menjadikan kita sesuai gambar dan rupaNya (Kejadian 1:26). Hmm.. apa yang terjadi pagi itu menyadarkan saya dan semua adik-adik saya yang mengikuti acara tersebut, jangan-jangan memang hidup kita tidak atau jauh sekali dalam hal kemiripan dengan Tuhan. Sampai-sampai orang tidak melihat ada Tuhan dalam hidup kita. Mungkin cara kita berbicara, mungkin keputusan-keputusan yang kita buat, cara kita menghadapi persoalan, bahkan termasuk cara kita bercanda, ngga ada mirip-miripnya dengan cara hidup Tuhan. Sedih ya... :(
Bisa saja sih kita membela diri dan berkata, "Ah! Manusia kan ngga ada yang sempurna. Mana bisa manusia menjadi seperti Tuhan!" atau bisa saja kita berkata, "Itu kan cuma soal tuntunan orang lain yang cenderung berlebihan!"
Terserah sih orang mau berkata apa, tetapi mungkin kita perlu sedikit merendahkan hati, menutup telinga dari semua dalih tersebut dan dalam keheningan mendengarkan suara hati kita sendiri yang menggelitik, "Sudah sebaik apa kamu menyatakan keberadaan Kristus dalam hidupmu? Sudah seberapa besar perjuanganmu untuk hidup serupa denganNya?" Jangan sampai orang justru bukan melihat Kristus, tapi malah melihat monster yang menakutkan dalam diri kita melalui kata-kata kita yang kasar, hawa nafsu yang liar dan tak terkendali, amarah yang meledak-ledak, kebencian yang tak mereda walau waktu terus berlalu.
Ini PR kita semua... sehingga orang lain ngga sulit-sulit untuk mengenali Allah, sebab mereka bisa mengenaliNya melalui kita, yang tidak lain adalah anak-anakNya.
Selamat berjuang untuk makin mirip dengan Bapa kita!

klik ini untuk baca selanjutnya

28 September 2009

God is no where - God is now here!


Sulit untuk percaya kalau tidak ada buktinya!
Ngga tentu benar kalau tidak lihat dengan mata kepala sendiri!
Mana bisa dipercaya? Lihat saja tidak!

Yuph! Ungkapan yang seringkali kita dengar dan mungkin juga sering kita lontarkan dalam percakapan kita sehari-hari. Memang ngga mudah untuk mempercayai sesuatu yang tidak kita lihat. Apalagi kalau "Tuhan" yang kita maksudkan dalam hal ini. Ehm...masih aja ada orang-orang yang dengan mudahnya berkata tidak percaya kepada Tuhan karena ia tidak dapat melihatNya.

Orang-orang seperti itu perlu belajar dari adik-adik remaja saya. Hehehe. Menulis tentang ini membuat saya teringat akan pengalaman menarik dengan mereka beberapa hari lalu. Libur Lebaran biasa diisi dengan kegiatan camp, retreat, live in, dan sejenisnya. Tapi tahun ini kosong. Ngga ada program coz udah dilakukan di bulan-bulan sebelumnya dan anggaran dah habis (benernya pingin ada kegiatan luar kota. Siapa mau bantu donasi? hub saya, wkwkwkwk..). Tapi kami ngga mau melewatkan liburan begitu saja. So, kami buat acara kecil-kecilan...ngumpul-ngumpul gitu buat kegiatan yang bermanfaat untuk mengakrabkan dan menyehatkan jasmani rohani. Lokal aja sih tempatnya, minim budget, tapi boros manfaatnya..(ceilee).. Sekitar 30-35 remaja bergabung, mulai jam 5 pagi.
Seperti biasa, mengawali semua kegiatan kami berdoa dulu...mengambil waktu khusus buat merenungkan tentang Tuhan. Hari itu saya ngga kotbah atau bicara panjang lebar. Mereka juga ngga saya suruh baca ayat panjang dan lama. Saya hanya menginstruksikan mereka untuk berkeliling lokasi acara dalam waktu max 5 menit... tugas mereka adalah "Finding GOD". Yuph..cuman itu! Temukan Tuhan di sekitar kita.
Yang pasti...saya bukan panteis dan teman-temannya. Saya tidak sedang mengajak mereka percaya bahwa segala sesuatu adalah Tuhan dan menyembah segala sesuatu yang adalah Tuhan itu. Saya hanya ingin menguji kepekaan mereka terhadap kehadiran Tuhan dalam berbagai cara di hidup mereka. Sebab mungkin kesibukan sekolah membuat mereka sudah ngga sempat lagi menghayati dan mensyukuri kehadiran Tuhan, bahkan tanpa sadar sudah tidak lagi menghormati kehadiranNya... :(
Sungguh di luar dugaan, tidak sampai 5 menit mereka sudah 'menemukan Tuhan'. Hebat! Ada yang menemukan Tuhan ada di hiasan dinding yang mencamtumkan ayat-ayat Alkitab (buah Roh misalnya). Si penemu berkata bahwa melalui tulisan itu dia diingatkan akan Tuhan dan firmanNya. Ada juga yang 'menemukan Tuhan' di botol bekas obat (dia mengambil dari poliklinik kami). Si penemu berkata, "Melihat botol itu ia ingat bahwa kepandaian manusia menemukan obat-obatan tidak lain menunjukkan kehebatan Tuhan sebagai pencipta manusia. Lucunya, ada juga yang menemukan Tuhan di parkiran motor. Katanya, dia menemukan Tuhan di situ karena kalau tidak ada Tuhan, ngga mungkin selamat sampai di tempat acara.
Nah, ngga sulit kan sebenarnya menemukan Tuhan. Apalagi kita percaya Ia mahahadir. Jika memang kita berkata Dia mahahadir, Dia menyertai (Imanuel)...kenapa kita masih sering takut? kenapa kita masih berani berbuat yang aneh-aneh, yang jahat, seakan-akan Tuhan ngga bisa melihat apa yang kita buat?! Kalau kita masih terus dikuasai ketakutan, kalau kita masih nyantai aja berbuat dosa tanpa takut, hati-hati teman! Mungkin jangan-jangan kita ngga pernah yakin bahwa Ia ada dan hadir. Lebih buruk dari itu adalah... (sory to say..) kita tahu DIA hadir, tapi kita tidak mau menghormatiNya..kita mengacuhkanNya dengan sengaja. Oh no!
So, dimana Tuhan dalam hidupmu? Can u find him? Do u realize his present? Do you respect on him? Bukan kata-katamu yang menjawab, tapi cara hidupmu menunjukkan jelas jawaban yg sebenarnya darimu. Seperti yang tertulis dalam firmanNya,

"Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintahNya."
- 1 Yohanes 5:3 -

klik ini untuk baca selanjutnya

23 Maret 2009

Percayai apa yang kamu serahkan



“Katanya harus saya yang kerjakan semua, eh sekarang kok dia ikut campur?”
“Keputusan apa pun sudah dipercayakan kepada saya, kenapa sekarang dia marah?”
“Katanya mau makan apa saja, sekarang sudah sampai di depot ini kok kamu ngga mau makan?
Pasti sebel kalo menghadapi situasi yang seperti itu.

Ada orang-orang yang sudah menyerahkan sesuatu dalam kekuasaan kita, entah itu keputusan, benda, pengaturan, tugas, dll, dan penyerahan itu dipertegas dengan pernyataan-pernyataan seperti, “Pokoknya terserah kamu saja, saya ngikut!” atau “Saya percayakan sepenuhnya ke kamu!”, atau “Kamu aja yang tangani urusan ini!”. Awalnya mungkin kita senang, bangga, merasa dibutuhkan ketika orang lain berkata demikian kepada kita. Tapi ya mungkin bagi sebagian orang itu tidak menyenangkan sebab menambah beban. Apa pun respon awal yang kita tunjukkan, walau mungkin berbeda-beda tiap orang, tapi kalo ditengah-tengah pelaksanaan amanah itu, ternyata orang tersebut menginterupsi dengan ikut campur memberi perintah-perintah baru yang menyetir kita, mengubah apa yang kita rencanakan, dan yang lebih parah adalah menyalahkan segala tindakan atau keputusan kita. Wah, saya yakin tuh, pasti kitanya sebel, jengkel, kesel, dan sejenisnya lah..., semua rasa senang, bangga, dibutuhkan, ngga akan dominan lagi, apalagi buat mereka yang sejak awal merasakannya sebagai beban, bukan kepercayaan. Bisa tambah senewen bin emosi jiwa kaleee....

Ga ada seorang pun yang senang diperlakukan demikian bukan? Tapi kalo kita mau mikir lebih dalam, dan dengan lebih rendah hati, kepala dingin, atau yach...berani jujur dengan diri sendiri, bukankah ketika orang lain menginterupsi kita, mengubah rencana kita, menyalahkan kita, itu kan masih wajar dan manusiawi? Toh kita adalah manusia biasa yang bisa salah, cuman kadang kesombongan dan ego itulah yang membuat kita sulit menerima kenyataan diperlakukan demikian oleh orang lain. Jangan terlalu panik dech menghadapi situasi demikian...

Sadar ngga sich kalo kita pun sering memperlakukan Tuhan seperti itu? Berkali-kali kita berkata mau menyerahkan banyak hal kepada Tuhan, membiarkan Tuhan yang mengurusnya. Bukankah yang terjadi seharusnya adalah kita mau percaya, taat alias tunduk pada rencana dan jalan-jalan yang Ia sediakan buat kita keluar dari persoalan kita? Tapi buktinya kita lebih sering ngga yakin dengan jalan Tuhan, ngga yakin itu jalan yang terbaik hanya karena kita merasa berat atau ada risiko ketika menempuh jalan itu. Dan kita coba tawar menawar dengan Tuhan, gimana kalo pake cara-cara lain yang lebih mudah, yang lebih cepat, yang lebih aman, dll. Ehm.... bukankah Tuhan juga bisa merasakan seperti yang kita rasakan ketika diinterupsi orang lain, “Duh ini anak, katanya sudah berserah, katanya mau kehendakKu yang jadi, lah kok sekarang...”.
Kebanyakan protes, marah, kecewa kepadaNya ketimbang kerasnya perjuangan untuk menjalani kehendakNya. Duh..duh,... ini baru namanya ngga pantes, kan Dia itu Bapa yang baik, yang sempurna, yang berkuasa, jadi ngga mungkin salah mengatur hidup kita. Kenapa kita ragu? Kenapa kita menyalahkan Dia? Emangnya Dia sama dengan kita-kita yang bisa salah dan teledor mengemban tanggung jawab dari bos or pimpinan kita?
Jadi, mulai sekarang, kalau ada orang lain menginterupsi kita atas apa yang sudah ia percayakan kepada kita, jangan terlalu dibawa emosi, keep humble! Kalo memang ada salah ya ngga apa diakui dan diperbaiki, kalo merasa benar ya jangan buat ‘dosa’ dalam kebenaran yang ada padamu (benci, sombong...wiiii, itu sama aja jadi ngga bener), dan paling penting, keadaan seperti itu jangan diforward ke Tuhan ya! Dia ngga pernah salah mengatur yang terbaik atas apa yang kamu serahkan kepadaNya.

"Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!"
Mazmur 55: 22

klik ini untuk baca selanjutnya

02 Maret 2009

Buddha Bar



Buddha Bar..
Salah satu bar di Jakarta yang sekarang lagi diributin oleh beberapa pihak sehubungan dengan namanya yang cukup nyeleneh. Bar, tapi kok Buddha. Buddha, tapi kok ada di bar? :P bingung.


Bar ini ada di kawasan Menteng , tepatnya di Jl. Teuku Umar No. 1. Pada bagian resto , Buddha Bar menawarkan kuliner Asia Pasifik dimana sebagian besar menu didominasi menu oriental dan jepang. Cuman memang bukan itu yang jadi pemicu masalah. Sebagian besar umat Budha yang tergabung dalam Forum Anti Buddha Bar (FABB), Walubi, berkeberatan karena nama Buddha digunakan sebagai nama bar tersebut. Ketua Umum PP Hikmahbudhi, Eko Nugroho berkata "Kafe itu sungguh menghina kami umat Budha. Selain 80 persen menyajikan minuman beralkohol, di dalamnya juga menyinggung kami, simbol-simbol ummat Budha digunakan. Harusnya, sebagai warga negara Indonesia yang berasaskan Pancasila, sama-sama saling menghormati. Tentu saja umat Budha tidak berkenan dengan keberadaan kafe Buddha-BAR itu." Berbagai upaya lewat jalan damai sudah ditempuh, tetapi tidak ada hasilnya. Apalagi kalau diikuti dengan suara-suara miring bahwa proses ini menjadi sulit karena pemilik kafe ini masih ada hubungan dengan keluarga salah satu pejabat dengan inisial...(ga tahu bener apa ngganya, jadi tidak saya cantumkan.. :)) Sehingga persoalan ini berkembang ke jalur hukum dengan tuntutan penistaan agama. Mereka menghendaki kafe ini ditutup sehingga tidak lagi meresahkan umat Buddha di Indonesia.
Bisa ngerti sich kenapa umat Buddha protes, tapi yach.. hal-hal semacam ini bukankah seharusnya membuat kita lebih melihat bahwa beginilah cerminan hidup mayoritas orang masa kini? Agama hanya menjadi label semata tanpa dibarengi dengan kesesuaian hidup terhadap apa yang diyakininya.
Baguslah kalau kasus Buddha Bar masih ada yang marah, yang protes, yang peduli dan menindaklanjuti. Jadi kepikir, kalau kasus para penganut agama yang profil hidupnya tidak sesuai dengan agamanya, atau lebih jelas tidak sesuai dengan Tuhan yang dipercayainya..... siapa yang marah ya? Siapa yang memperjuangkannya ya? Masih adakah yang mau peduli?
Dijawab masing-masing aja deh... yang pasti saya mencoba untuk peduli dengan hidup saya sendiri dulu... :)

klik ini untuk baca selanjutnya

27 Februari 2009

Jalan Masih Panjang: Hadapilah!



Kusadar hidup ini hanya sebentar
Untuk apa putus asa
Kan buang waktu saja
Bukankah setiap orang punya problema
Yang harus kita lalui
Dengan hati yang tabah
Lupakanlah sudah masa lalu kelabu
Kita susun langkah baru
Jangan hanya menunggu
Harapan, kesempatan, dan jua waktu
Takkan selamanya datang
Menghampiri hidup kita

Bersyukurlah hari ini
Kita masih dapat berjumpa
Dalam kasih sayangnya
Berdoalah dari semua
Cita-cita hidup di dunia
Dan jangan kita lupa
Dia yang di atas sana, kawan

Hidup ini berat tapi jangan takut, kawan
Semua pengorbanan
Selalu menjadikan bahagia
Satu lagi, kawan
Jalan masih panjang
Berarti kita harus melangkah terus kemuka

Pada pernah dengar lagu ini ngga ya? Memang sudah agak jadul, tapi jadi teringat kembali kemarin pagi di mobil dalam perjalanan ke tempat kerja. Easy listening betul! Menambah kesejukan pagi kemarin setelah malamnya merasa sangat terancam dalam perjalanan pulang karena hujan yang sangat lebat. Tol licin dan gelap, ada kecelakaan di beberapa tempat, termasuk di jalan yang saya lewati. O.....malam itu, bener-bener bersyukur deh karena sampai rumah dengan selamat.

Masih dalam rangka menata blog yang baru, lagu ini mengingatkan saya akan tema blog baru ini. Menemukan arti dari pengalaman-pengalaman setiap hari akan membuat kita lebih bisa enjoy menjalani hidup. Jangan pernah merasa diri sendiri yang paling menderita dan malang di dunia ini. Ada orang-orang lain yang juga mengalami hal yang sama, walau jenis penderitaannya beda. Yah...setidaknya ini membuat kita lebih realistis melihat dunia ini. Ngga akan ada kebahagiaan abadi, ngga akan ada orang yang tidak pernah menangis karena penderitaannya. Ngga akan ada sekarang, tetapi Alkitab berkata itu adalah pengharapan bagi orang yang percaya apa kata firman Tuhan. Suatu saat kelak, ketika segala yang di dunia ini berlalu, Tuhan telah menyiapkan kehidupan yang sungguh baru. Bebas dari derita, bebas dari air mata, bebas dari sakit penyakit. So, jangan maksain diri untuk mendapat semuanya itu sekarang, apalagi maksain Tuhan untuk berikan itu semua sekarang. Mesti baca lagi firman Tuhan dengan baik-baik.

Lirik lagu ini mengajak kita menyadari hidup itu hanya sebentar, setiap orang punya problema, punya saat-saat kelabu dalam hidupnya, karena itu jangan putus asa, malah susunlah langkah baru dan mengandalkan 'Dia' .... yang di atas sana. Bukan dia-dia yang lain.

Lagu ini menyiratkan salah satu moto hidup saya, there's a new hope & blessing in each new day. Tuhan pasti punya rencana dan kehendak atas hidup kita di tiap hari baru yang kita miliki, jadi, mari menghadapi apa saja hari ini dengan keyakinan bahwa Tuhan mampu mengatur hidup kita dengan baik. Jika belum lihat apa baiknya...ehm.. mesti sabar dan rajin-rajin baca blog ini.... :)
Sama-sama berjuang dengan saya untuk bisa menikmati hidup yang sebenarnya di dalam Tuhan!

- keep in faith -

klik ini untuk baca selanjutnya

26 Februari 2009

Menghapus Jejakmu: Mungkinkah?

Judulnya minjem lagu Peterpan…. tapi ngga ngebahas tentang lagu itu kok. Suka aja sama judulnya dan jadi pingin nulis soal menghapus jejak. :) Jadi, jangan kecewa duluan, terusin aja bacanya, moga menginspirasi temen-temen semua…

Januari-Februari 2009 - masih tergolong awal tahun - saya banyak dijejali dengan urusan orang-orang yang hidup dengan luka hati sebagai hasil dari relasi dengan orang-orang tertentu di masa lalu mereka. Luka itu tidak jarang sangat berbekas dan bahkan menimbulkan komplikasi dalam diri orang-orang yang demikian. Ehm…banyak sich ya orang-orang kayak gini. Tapi karena dua bulan ini numpuk banget masalah kayak gini (bahkan beberapa masih dalam daftar antrian.. ), belum lagi pake ikutan kuliah terapi luka batin, belajar tentang borderline & terapi modifikasi, homoseks pun ngga ketinggalan… hahaha…. akhirnya jadi keblinger. Lebih penting dari itu semua adalah karena beberapa diantara mereka yang datang dalam dua bulan ini adalah orang-orang yang bisa dikatakan cukup dekat denganku. Ehm…… ngga mudah sich ya perjuangan kalian semua, tapi saya yakin kalian akan bisa menjadi orang yang merdeka dari luka-luka batin itu.
Kita menjadi orang-orang seperti sekarang, sedikit banyak pasti dipengaruhi oleh masa lalu kita.
Ada orang-orang yang baik, peristiwa-peristiwa membahagiakan yang menyenangkan bila kita mengingatnya, bahkan jika mungkin, kita ingin mengulanginya kembali.
Namun ada juga orang-orang yang entah disengaja atau tidak, telah bersalah kepada kita, atau mungkin hanya sekadar tidak menjadi orang seperti yang kita harapkan dan kemudian kita memperhitungkannya sebagai kesalahan pada diri orang tersebut. Ada peristiwa-peristiwa pahit, yang bahkan sebagian orang berusaha menghindarkan dirinya dari ingatan tentang peristiwa-peristiwa tersebut, juga dari orang-orang yang telah menimbulkan kenangan pahit tersebut.
Sebagian orang memilih untuk hidup dengan menyimpan luka, menjadi orang yang rapuh, menghindarkan diri dari luka yang lain dengan cara meledakkan amarahnya kepada siapa saja dan apa saja yang tidak berkenan di hatinya, agresif, memendam kebencian dan menunggu saat yang tepat untuk membalas sakit hatinya, menjadi pemberontak, menjerumuskan diri dengan narkoba, seks bebas, kriminalitas, dan segala hal yang pada akhirnya hanya akan menghancurkan diri sendiri.
Terkadang orang berpikir dengan cara-cara tersebut bisa membuat dirinya aman dari luka yang baru dan menghancurkan orang-orang yang dibencinya. Tapi pada akhirnya, semua prilaku yang dimunculkan hanya akan makin menunjukkan dengan jelas adanya kekosongan hidup dimana-mana dalam diri orang yang demikian. Jalan keluar yang diusahakannya hanya akan menjadi usaha tambal sulam saja, menutup kekosongan yang satu dan akibatnya membuka kekosongan yang lain.
Percayalah teman-temanku,
Sasaran kehancuran pertama dari kebencian dan dendam, luka hati yang dipelihara, adalah pada diri sendiri, bukan pada orang lain, bukan juga pada orang-orang yang telah menimbulkan luka itu.
Jadi, berhentilah marah, berhentilah mengutuki, berhentilah menyerang, berhentilah mencoba melupakan, berhentilah dari pelarianmu.. ambil keputusan untuk mengampuni mereka. Hanya pengampunan yang mampu memutuskan rantai kebencian itu. Hanya pengampunan yang dapat menyembuhkanmu dari luka hatimu. Pengampunan itu adalah keputusanmu, bergantung padamu…tidak peduli jika ada luka lain yang mungkin terjadi, tetaplah mengampuni.
Saya belajar mensyukuri semua pengalaman, baik yang membahagiakan maupun yang membuat harus berderai air mata duka..
Saya belajar mensyukuri semua orang yang hadir dalam hidup saya, dengan semua kebaikan maupun kesalahannya…
Saya bersyukur sebab itu semua menjadikan saya seperti sekarang, dengan semua keunikan saya, belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu…
Bagaimanapun..Tuhan sudah sediakan rencana yang baik bagi tiap orang, tinggal sekarang yang harus diingat adalah keputusan untuk menjadi orang seperti apa tetap ada di tangan kita sendiri, bukan di tangan orang lain. Berhentilah menyalahkan orang lain dan mulailah perjuangkan dirimu sendiri.
Seperti Yusuf pernah menyimpulkan tragedi hidupnya di Kejadian 50:20 demikian,
” Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni …”
Mari mengisinya dengan kalimat-kalimat yang menjadi keputusan hidup kita masing-masing.
Jangan menghapus jejak masa lalumu, tetapi pakailah jejak itu untuk meneruskan langkahmu dengan jejak yang baru dan arah yang baru.
Selamat berjuang! Tuhan beserta

klik ini untuk baca selanjutnya