Para penegak hukum, para korban kejahatan masyarakat, dan juga korban ketidakadilan sosial pasti akan bereaksi keras membaca kalimat judul yang sengaja saya pilih untuk tulisan ini. Bagaimana mungkin jarak antara hukuman dan pengampunan hanya sejauh kata maaf? Jarak antara hukuman dan pengampunan tidak sedekat itu, melainkan ada yang harus menempuhnya dengan hitungan 5, 10, 30 tahun penjara, atau hukuman seumur hidup. Ada yang sampai berusaha menempuh jarak antara hukuman dan pengampunan itu dengan membiarkan dirinya dihantui rasa bersalah seumur hidup. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah adanya orang-orang yang menyimpan dan menyuburkan dendam hingga 7 turunan pun masih tidak bisa menuju akhir yang namanya pengampunan. Melalui tulisan ini saya ingin sampaikan kabar baik untuk Anda yang sudah lelah menempuh perjalanan dari keadaan orang terhukum menuju orang yang diampuni. Dan sebaliknya, perjalanan dari keinginan menghukum orang lain menuju kesediaan untuk mengampuni mereka.Perenungan judul tulisan kali ini terjadi ketika saya sedang terlibat konflik dengan seseorang. Situasi yang saya hadapi adalah bahwa kami tidak bertegur sapa, dan tidak melakukan komunikasi dalam bentuk apa pun. Biasalah... dalam keadaan normal saja manusia punya kecenderungan untuk melihat kesalahan orang lain daripada menemukan kesalahannya sendiri. Bukan ’penyakit’ baru kok, sebab sejak zaman bahula sudah ada orang-orang yang seperti itu (ups! Bahkan sejak nenek moyang kita, adam dan hawa ). Ngga heran kalau Tuhan pernah menegur keras orang-orang yang punya penyakit kayak gitu, ”Mengapakah engkau melihat selumbar (ctt: semacam serpihan, sangat kecil) di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3) Kembali ke topik kita, nah.. apalagi jika situasinya sedang ada konflik. Wah, penyakitnya bisa makin kambuh!
Saya benar dan dia salah
Itulah yang saya pikirkan dan rasakan. Itu membuat saya tidak berinisiatif untuk memohon maaf, sehingga terjadi ’perang dingin’ untuk sementara waktu. Mungkin dia juga berpikir demikian, dan akhirnya yang sebenarnya terjadi adalah kami saling menunggu.
Dalam situasi seperti ini, saya sama sekali tidak kehilangan kasih sayang saya kepadanya. Bagi saya, walau dia berbuat salah, tetapi bukan berarti seluruh dirinya buruk dan bersalah. Saya tetap memfokuskan diri pada apa yang diperbuatnya (kesalahannya) dan bukan mempersoalkan pribadinya. Saya menunggu dan menunggu dia datang kepada saya dan mengakui kesalahannya dan saya pasti akan segera menyatakan bahwa saya sudah memaafkannya, jauh sebelum dia meminta maaf. Selama dia tidak datang kepada saya dan mengakui kesalahannya, situasi yang mungkin terjadi adalah perang dingin yang berkepanjangan. Dan dia akan merasakan ’hukumannya’ karena tidak lagi bisa bercanda dengan saya, tidak lagi berbagi makanan dengan saya, tidak lagi bisa curhat dan jalan bareng lagi. Hm.. dia akan kehilangan saat-saat indah denganku. Bukan hanya dia yang akan merasakan, tetapi yang lebih menderita adalah saya. Karena saya sudah tidak tahan lagi ada dalam ’perang dingin’. Saya ingin menelponnya, saya ingin bercanda dengannya, saya ingin makan bersamanya, belanja bersama seperti dulu lagi, penuh tawa ceria ketika bertemu. Dan lebih dari itu, saya ingin mengatakan bahwa saya sangat mengasihinya (sama seperti sebelum kesalahan itu terjadi) dan saya tidak mau kehilangan dia dan saat-saat manis bersamanya. Saya ingin dia tahu, walau sepertinya terjadi ’perang dingin’, tapi saya tidak pernah bersikap dingin terhadapnya. Saya terus memperhatikannya, saya membelikan hadiah untuknya, yang sudah tidak sabar untuk saya berikan ketika dia datang menemui saya. Bahkan saya tidak pernah berhenti mendoakannya. Hm.. andai dia tahu.
Keadaanku membuatku teringat akan apa yang Tuhan lakukan buatku dan buat kita semua orang berdosa. Dia tidak pernah bosan menunggu kita datang kepadaNya. Walau saya sering menyakiti hatiNya, Dia selalu mengampuni saya. Sama seperti yang tertulis pada Mikha 7:18: ”Siapakah Allah seperti Engkau, yang mengampuni dosa dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milikNya sendiri; yang tidak bertahan dalam murkaNya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia.” Ibrani 10:17, ”dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.”
Tapi seringkali kita menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Kita mengeraskan hati dan tidak mau mengakui dosa kita, merasa diri benar dan tidak membutuhkan Tuhan. Jika itu yang terus kita pertahankan dalam hidup kita, kita akan merugi besar sekali. Kita akan kehilangan saat-saat indah bersama Tuhan dan hidup dalam neraka kebinasaan. Semua hadiah indah yang Tuhan siapkan tidak akan pernah menjadi bagian orang-orang yang tidak mau datang mengakui dosa dan memohon pengampunanNya.
Syukurlah, pengalaman ini membuat saya kembali diajak menghayati karya Tuhan dalam hidup saya. Saya yang hanya manusia biasa seperti ini saja bisa memiliki kasih dan kerinduan untuk menanti orang yang bersalah kepada saya, ntah bagaimana dengan Tuhan. Kasih dan kerinduanNya sejuta kali lipat (bahkan lebih) dibandingkan yang saya rasakan saat ini. Hhm... saya bersyukur, saya pernah mengalami saat terindah bersamaNya ketika menyadari banyaknya dosa saya dan ternyata masih ada satu Pribadi, yaitu Kristus yang menerima saya dan mengampuni saya. Sehingga sampai dengan hari ini (dan saya percaya untuk seterusnya)... saya menemukan sukacita hidup di dalam Dia yang tidak terkatakan.
Syukurlah, pengalaman ini membuat saya kembali diajak menghayati karya Tuhan dalam hidup saya. Saya yang hanya manusia biasa seperti ini saja bisa memiliki kasih dan kerinduan untuk menanti orang yang bersalah kepada saya, ntah bagaimana dengan Tuhan. Kasih dan kerinduanNya sejuta kali lipat (bahkan lebih) dibandingkan yang saya rasakan saat ini. Hhm... saya bersyukur, saya pernah mengalami saat terindah bersamaNya ketika menyadari banyaknya dosa saya dan ternyata masih ada satu Pribadi, yaitu Kristus yang menerima saya dan mengampuni saya. Sehingga sampai dengan hari ini (dan saya percaya untuk seterusnya)... saya menemukan sukacita hidup di dalam Dia yang tidak terkatakan.
Saya salah dan dia benar
Inilah sisi yang lain dalam pergumulan saya ketika dihadapkan pada situasi konflik dan perang dingin dengan orang yang saya ceritakan di atas. Ketika pikiran ini muncul, maka seharusnya yang saya lakukan adalah datang kepadanya dan meminta maaf. Ya, ini yang akan saya lakukan (kalau batas waktu menunggu dia yang saya tetapkan sudah habis sementara dia tak kunjung datang). Jangan samakan saya dengan Tuhan dalam hal ini. Kalau Tuhan akhirnya yang datang menemui kita yang berdosa, bukan karena Dia salah dan kita benar, tetapi karena kasihNya yang luar biasa. Sehingga walau Dia ngga salah, Dia mau diperhitungkan sama dengan kita yang berdosa. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (II Korintus 5:21).
Karena saya manusia biasa, bisa jadi sebenarnya yang membuat dia tidak datang adalah karena saya dinyatakan bersalah olehnya. Dan bila waktunya telah tiba, saya tidak merasakan ada sedikit ganjalan dan ketakutan untuk datang meminta maaf kepadanya. Sebab saya tahu, ia juga mengasihi saya dan akan bersedia memaafkan saya. Itu membuat saya berani datang, seburuk apa pun kesalahan saya di matanya, ia pasti akan tetap memaafkan saya.
Lagi-lagi ini mengingatkan saya akan Tuhan. Harusnya kita yang berdosa, kita tidak perlu takut menghadap Dia. Kita tidak boleh terus merasa terhukum dan tidak mau menghampiriNya. Sebab kasih karuniaNya telah memberikan jalan bagi kita untuk berani menghadap tahtaNya, sama seperti yang tertulis dalam Ibrani 4:16, ”Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya".
Lagi-lagi ini mengingatkan saya akan Tuhan. Harusnya kita yang berdosa, kita tidak perlu takut menghadap Dia. Kita tidak boleh terus merasa terhukum dan tidak mau menghampiriNya. Sebab kasih karuniaNya telah memberikan jalan bagi kita untuk berani menghadap tahtaNya, sama seperti yang tertulis dalam Ibrani 4:16, ”Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya".
Pengalaman saya adalah pengalaman umum yang biasa terjadi dalam relasi antar manusia, dalam konteks hubungan apa pun yang melatarbelakanginya. Karena itu, ketika mungkin Anda pernah ada dalam posisi merasa benar dan menunggu orang lain datang meminta maaf kepada Anda, jadikan itu kesempatan untuk menghayati kasih dan kerinduan Kristus menunggu Anda setiap harinya. Jika itu bisa Anda hayati, maka andai kata orang itu tak kunjung datang meminta maaf, maka pasti Anda tidak akan sanggup menahan diri untuk segera datang dan menunjukkan kasih Anda kepadanya. Jangan menunggu lebih lama lagi...
Bila Anda pernah berbuat salah dan tidak berani mengakui kesalahan Anda. Dan kini relasi Anda menjadi buruk, hidup Anda terganggu dengan rasa bersalah... tidak ada salahnya Anda berani mencoba untuk meminta maaf kepadanya, siapa tahu dia sudah lama menunggu Anda datang. Jangan keraskan hatimu...
Bila Anda pernah berbuat salah dan tidak berani mengakui kesalahan Anda. Dan kini relasi Anda menjadi buruk, hidup Anda terganggu dengan rasa bersalah... tidak ada salahnya Anda berani mencoba untuk meminta maaf kepadanya, siapa tahu dia sudah lama menunggu Anda datang. Jangan keraskan hatimu...
Jarak antara hukuman dan pengampunan hanya sejauh kata maaf.
Berilah maaf agar orang lain lepas dari keadaan terhukum.
Memintalah maaf agar Anda beroleh pengampunan.
Berilah maaf agar orang lain lepas dari keadaan terhukum.
Memintalah maaf agar Anda beroleh pengampunan.






