26 Februari 2009

Menghapus Jejakmu: Mungkinkah?

Judulnya minjem lagu Peterpan…. tapi ngga ngebahas tentang lagu itu kok. Suka aja sama judulnya dan jadi pingin nulis soal menghapus jejak. :) Jadi, jangan kecewa duluan, terusin aja bacanya, moga menginspirasi temen-temen semua…

Januari-Februari 2009 - masih tergolong awal tahun - saya banyak dijejali dengan urusan orang-orang yang hidup dengan luka hati sebagai hasil dari relasi dengan orang-orang tertentu di masa lalu mereka. Luka itu tidak jarang sangat berbekas dan bahkan menimbulkan komplikasi dalam diri orang-orang yang demikian. Ehm…banyak sich ya orang-orang kayak gini. Tapi karena dua bulan ini numpuk banget masalah kayak gini (bahkan beberapa masih dalam daftar antrian.. ), belum lagi pake ikutan kuliah terapi luka batin, belajar tentang borderline & terapi modifikasi, homoseks pun ngga ketinggalan… hahaha…. akhirnya jadi keblinger. Lebih penting dari itu semua adalah karena beberapa diantara mereka yang datang dalam dua bulan ini adalah orang-orang yang bisa dikatakan cukup dekat denganku. Ehm…… ngga mudah sich ya perjuangan kalian semua, tapi saya yakin kalian akan bisa menjadi orang yang merdeka dari luka-luka batin itu.
Kita menjadi orang-orang seperti sekarang, sedikit banyak pasti dipengaruhi oleh masa lalu kita.
Ada orang-orang yang baik, peristiwa-peristiwa membahagiakan yang menyenangkan bila kita mengingatnya, bahkan jika mungkin, kita ingin mengulanginya kembali.
Namun ada juga orang-orang yang entah disengaja atau tidak, telah bersalah kepada kita, atau mungkin hanya sekadar tidak menjadi orang seperti yang kita harapkan dan kemudian kita memperhitungkannya sebagai kesalahan pada diri orang tersebut. Ada peristiwa-peristiwa pahit, yang bahkan sebagian orang berusaha menghindarkan dirinya dari ingatan tentang peristiwa-peristiwa tersebut, juga dari orang-orang yang telah menimbulkan kenangan pahit tersebut.
Sebagian orang memilih untuk hidup dengan menyimpan luka, menjadi orang yang rapuh, menghindarkan diri dari luka yang lain dengan cara meledakkan amarahnya kepada siapa saja dan apa saja yang tidak berkenan di hatinya, agresif, memendam kebencian dan menunggu saat yang tepat untuk membalas sakit hatinya, menjadi pemberontak, menjerumuskan diri dengan narkoba, seks bebas, kriminalitas, dan segala hal yang pada akhirnya hanya akan menghancurkan diri sendiri.
Terkadang orang berpikir dengan cara-cara tersebut bisa membuat dirinya aman dari luka yang baru dan menghancurkan orang-orang yang dibencinya. Tapi pada akhirnya, semua prilaku yang dimunculkan hanya akan makin menunjukkan dengan jelas adanya kekosongan hidup dimana-mana dalam diri orang yang demikian. Jalan keluar yang diusahakannya hanya akan menjadi usaha tambal sulam saja, menutup kekosongan yang satu dan akibatnya membuka kekosongan yang lain.
Percayalah teman-temanku,
Sasaran kehancuran pertama dari kebencian dan dendam, luka hati yang dipelihara, adalah pada diri sendiri, bukan pada orang lain, bukan juga pada orang-orang yang telah menimbulkan luka itu.
Jadi, berhentilah marah, berhentilah mengutuki, berhentilah menyerang, berhentilah mencoba melupakan, berhentilah dari pelarianmu.. ambil keputusan untuk mengampuni mereka. Hanya pengampunan yang mampu memutuskan rantai kebencian itu. Hanya pengampunan yang dapat menyembuhkanmu dari luka hatimu. Pengampunan itu adalah keputusanmu, bergantung padamu…tidak peduli jika ada luka lain yang mungkin terjadi, tetaplah mengampuni.
Saya belajar mensyukuri semua pengalaman, baik yang membahagiakan maupun yang membuat harus berderai air mata duka..
Saya belajar mensyukuri semua orang yang hadir dalam hidup saya, dengan semua kebaikan maupun kesalahannya…
Saya bersyukur sebab itu semua menjadikan saya seperti sekarang, dengan semua keunikan saya, belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu…
Bagaimanapun..Tuhan sudah sediakan rencana yang baik bagi tiap orang, tinggal sekarang yang harus diingat adalah keputusan untuk menjadi orang seperti apa tetap ada di tangan kita sendiri, bukan di tangan orang lain. Berhentilah menyalahkan orang lain dan mulailah perjuangkan dirimu sendiri.
Seperti Yusuf pernah menyimpulkan tragedi hidupnya di Kejadian 50:20 demikian,
” Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni …”
Mari mengisinya dengan kalimat-kalimat yang menjadi keputusan hidup kita masing-masing.
Jangan menghapus jejak masa lalumu, tetapi pakailah jejak itu untuk meneruskan langkahmu dengan jejak yang baru dan arah yang baru.
Selamat berjuang! Tuhan beserta

Tidak ada komentar: