
Buddha Bar..
Salah satu bar di Jakarta yang sekarang lagi diributin oleh beberapa pihak sehubungan dengan namanya yang cukup nyeleneh. Bar, tapi kok Buddha. Buddha, tapi kok ada di bar? :P bingung.
Bar ini ada di kawasan Menteng , tepatnya di Jl. Teuku Umar No. 1. Pada bagian resto , Buddha Bar menawarkan kuliner Asia Pasifik dimana sebagian besar menu didominasi menu oriental dan jepang. Cuman memang bukan itu yang jadi pemicu masalah. Sebagian besar umat Budha yang tergabung dalam Forum Anti Buddha Bar (FABB), Walubi, berkeberatan karena nama Buddha digunakan sebagai nama bar tersebut. Ketua Umum PP Hikmahbudhi, Eko Nugroho berkata "Kafe itu sungguh menghina kami umat Budha. Selain 80 persen menyajikan minuman beralkohol, di dalamnya juga menyinggung kami, simbol-simbol ummat Budha digunakan. Harusnya, sebagai warga negara Indonesia yang berasaskan Pancasila, sama-sama saling menghormati. Tentu saja umat Budha tidak berkenan dengan keberadaan kafe Buddha-BAR itu." Berbagai upaya lewat jalan damai sudah ditempuh, tetapi tidak ada hasilnya. Apalagi kalau diikuti dengan suara-suara miring bahwa proses ini menjadi sulit karena pemilik kafe ini masih ada hubungan dengan keluarga salah satu pejabat dengan inisial...(ga tahu bener apa ngganya, jadi tidak saya cantumkan.. :)) Sehingga persoalan ini berkembang ke jalur hukum dengan tuntutan penistaan agama. Mereka menghendaki kafe ini ditutup sehingga tidak lagi meresahkan umat Buddha di Indonesia.
Bisa ngerti sich kenapa umat Buddha protes, tapi yach.. hal-hal semacam ini bukankah seharusnya membuat kita lebih melihat bahwa beginilah cerminan hidup mayoritas orang masa kini? Agama hanya menjadi label semata tanpa dibarengi dengan kesesuaian hidup terhadap apa yang diyakininya.
Baguslah kalau kasus Buddha Bar masih ada yang marah, yang protes, yang peduli dan menindaklanjuti. Jadi kepikir, kalau kasus para penganut agama yang profil hidupnya tidak sesuai dengan agamanya, atau lebih jelas tidak sesuai dengan Tuhan yang dipercayainya..... siapa yang marah ya? Siapa yang memperjuangkannya ya? Masih adakah yang mau peduli?
Dijawab masing-masing aja deh... yang pasti saya mencoba untuk peduli dengan hidup saya sendiri dulu... :)


2 komentar:
hai.. kak inge
ijinkan saya memperkenalkan diri. saya santi. biasa dipanggil san-san. saya menyukai gaya tulisan kakak yang santai dan ramah. sebenarnya saya ini memang sedang mencari makna kehidupan saya ini. saya sedang ada masalah dengan pacar saya yang menyebabkan saya menjadi bingung apakah perlu memaafkan dia atau saya putus saja dengannya.
hehehehe
cuman pengin curhat aja kok...
terima kasih sudah membaca
Hai San-San,
Memaafkan bukan berarti harus nyambung terus, sebaliknya, putus juga bkn berarti krn tdk memaafkan. Memaafkan itu keputusan & perjuangan San-San secara mandiri, tidak ada hubungannya dengan pcrmu. Tapi soal lanjut atau tdk, itu butuh perjuangan berdua.
Jadi, putus atau nyambung, San-san belajar memaafkan ya. Salam kenal & selamat berjuang.
Posting Komentar