23 Maret 2009

Percayai apa yang kamu serahkan



“Katanya harus saya yang kerjakan semua, eh sekarang kok dia ikut campur?”
“Keputusan apa pun sudah dipercayakan kepada saya, kenapa sekarang dia marah?”
“Katanya mau makan apa saja, sekarang sudah sampai di depot ini kok kamu ngga mau makan?
Pasti sebel kalo menghadapi situasi yang seperti itu.

Ada orang-orang yang sudah menyerahkan sesuatu dalam kekuasaan kita, entah itu keputusan, benda, pengaturan, tugas, dll, dan penyerahan itu dipertegas dengan pernyataan-pernyataan seperti, “Pokoknya terserah kamu saja, saya ngikut!” atau “Saya percayakan sepenuhnya ke kamu!”, atau “Kamu aja yang tangani urusan ini!”. Awalnya mungkin kita senang, bangga, merasa dibutuhkan ketika orang lain berkata demikian kepada kita. Tapi ya mungkin bagi sebagian orang itu tidak menyenangkan sebab menambah beban. Apa pun respon awal yang kita tunjukkan, walau mungkin berbeda-beda tiap orang, tapi kalo ditengah-tengah pelaksanaan amanah itu, ternyata orang tersebut menginterupsi dengan ikut campur memberi perintah-perintah baru yang menyetir kita, mengubah apa yang kita rencanakan, dan yang lebih parah adalah menyalahkan segala tindakan atau keputusan kita. Wah, saya yakin tuh, pasti kitanya sebel, jengkel, kesel, dan sejenisnya lah..., semua rasa senang, bangga, dibutuhkan, ngga akan dominan lagi, apalagi buat mereka yang sejak awal merasakannya sebagai beban, bukan kepercayaan. Bisa tambah senewen bin emosi jiwa kaleee....

Ga ada seorang pun yang senang diperlakukan demikian bukan? Tapi kalo kita mau mikir lebih dalam, dan dengan lebih rendah hati, kepala dingin, atau yach...berani jujur dengan diri sendiri, bukankah ketika orang lain menginterupsi kita, mengubah rencana kita, menyalahkan kita, itu kan masih wajar dan manusiawi? Toh kita adalah manusia biasa yang bisa salah, cuman kadang kesombongan dan ego itulah yang membuat kita sulit menerima kenyataan diperlakukan demikian oleh orang lain. Jangan terlalu panik dech menghadapi situasi demikian...

Sadar ngga sich kalo kita pun sering memperlakukan Tuhan seperti itu? Berkali-kali kita berkata mau menyerahkan banyak hal kepada Tuhan, membiarkan Tuhan yang mengurusnya. Bukankah yang terjadi seharusnya adalah kita mau percaya, taat alias tunduk pada rencana dan jalan-jalan yang Ia sediakan buat kita keluar dari persoalan kita? Tapi buktinya kita lebih sering ngga yakin dengan jalan Tuhan, ngga yakin itu jalan yang terbaik hanya karena kita merasa berat atau ada risiko ketika menempuh jalan itu. Dan kita coba tawar menawar dengan Tuhan, gimana kalo pake cara-cara lain yang lebih mudah, yang lebih cepat, yang lebih aman, dll. Ehm.... bukankah Tuhan juga bisa merasakan seperti yang kita rasakan ketika diinterupsi orang lain, “Duh ini anak, katanya sudah berserah, katanya mau kehendakKu yang jadi, lah kok sekarang...”.
Kebanyakan protes, marah, kecewa kepadaNya ketimbang kerasnya perjuangan untuk menjalani kehendakNya. Duh..duh,... ini baru namanya ngga pantes, kan Dia itu Bapa yang baik, yang sempurna, yang berkuasa, jadi ngga mungkin salah mengatur hidup kita. Kenapa kita ragu? Kenapa kita menyalahkan Dia? Emangnya Dia sama dengan kita-kita yang bisa salah dan teledor mengemban tanggung jawab dari bos or pimpinan kita?
Jadi, mulai sekarang, kalau ada orang lain menginterupsi kita atas apa yang sudah ia percayakan kepada kita, jangan terlalu dibawa emosi, keep humble! Kalo memang ada salah ya ngga apa diakui dan diperbaiki, kalo merasa benar ya jangan buat ‘dosa’ dalam kebenaran yang ada padamu (benci, sombong...wiiii, itu sama aja jadi ngga bener), dan paling penting, keadaan seperti itu jangan diforward ke Tuhan ya! Dia ngga pernah salah mengatur yang terbaik atas apa yang kamu serahkan kepadaNya.

"Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!"
Mazmur 55: 22

Tidak ada komentar: