30 September 2009

JARAK ANTARA HUKUMAN DAN PENGAMPUNAN HANYA SEJAUH KATA MAAF

Para penegak hukum, para korban kejahatan masyarakat, dan juga korban ketidakadilan sosial pasti akan bereaksi keras membaca kalimat judul yang sengaja saya pilih untuk tulisan ini. Bagaimana mungkin jarak antara hukuman dan pengampunan hanya sejauh kata maaf? Jarak antara hukuman dan pengampunan tidak sedekat itu, melainkan ada yang harus menempuhnya dengan hitungan 5, 10, 30 tahun penjara, atau hukuman seumur hidup. Ada yang sampai berusaha menempuh jarak antara hukuman dan pengampunan itu dengan membiarkan dirinya dihantui rasa bersalah seumur hidup. Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah adanya orang-orang yang menyimpan dan menyuburkan dendam hingga 7 turunan pun masih tidak bisa menuju akhir yang namanya pengampunan. Melalui tulisan ini saya ingin sampaikan kabar baik untuk Anda yang sudah lelah menempuh perjalanan dari keadaan orang terhukum menuju orang yang diampuni. Dan sebaliknya, perjalanan dari keinginan menghukum orang lain menuju kesediaan untuk mengampuni mereka.

Perenungan judul tulisan kali ini terjadi ketika saya sedang terlibat konflik dengan seseorang. Situasi yang saya hadapi adalah bahwa kami tidak bertegur sapa, dan tidak melakukan komunikasi dalam bentuk apa pun. Biasalah... dalam keadaan normal saja manusia punya kecenderungan untuk melihat kesalahan orang lain daripada menemukan kesalahannya sendiri. Bukan ’penyakit’ baru kok, sebab sejak zaman bahula sudah ada orang-orang yang seperti itu (ups! Bahkan sejak nenek moyang kita, adam dan hawa ). Ngga heran kalau Tuhan pernah menegur keras orang-orang yang punya penyakit kayak gitu, ”Mengapakah engkau melihat selumbar (ctt: semacam serpihan, sangat kecil) di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3) Kembali ke topik kita, nah.. apalagi jika situasinya sedang ada konflik. Wah, penyakitnya bisa makin kambuh!

Saya benar dan dia salah
Itulah yang saya pikirkan dan rasakan. Itu membuat saya tidak berinisiatif untuk memohon maaf, sehingga terjadi ’perang dingin’ untuk sementara waktu. Mungkin dia juga berpikir demikian, dan akhirnya yang sebenarnya terjadi adalah kami saling menunggu.
Dalam situasi seperti ini, saya sama sekali tidak kehilangan kasih sayang saya kepadanya. Bagi saya, walau dia berbuat salah, tetapi bukan berarti seluruh dirinya buruk dan bersalah. Saya tetap memfokuskan diri pada apa yang diperbuatnya (kesalahannya) dan bukan mempersoalkan pribadinya. Saya menunggu dan menunggu dia datang kepada saya dan mengakui kesalahannya dan saya pasti akan segera menyatakan bahwa saya sudah memaafkannya, jauh sebelum dia meminta maaf. Selama dia tidak datang kepada saya dan mengakui kesalahannya, situasi yang mungkin terjadi adalah perang dingin yang berkepanjangan. Dan dia akan merasakan ’hukumannya’ karena tidak lagi bisa bercanda dengan saya, tidak lagi berbagi makanan dengan saya, tidak lagi bisa curhat dan jalan bareng lagi. Hm.. dia akan kehilangan saat-saat indah denganku. Bukan hanya dia yang akan merasakan, tetapi yang lebih menderita adalah saya. Karena saya sudah tidak tahan lagi ada dalam ’perang dingin’. Saya ingin menelponnya, saya ingin bercanda dengannya, saya ingin makan bersamanya, belanja bersama seperti dulu lagi, penuh tawa ceria ketika bertemu. Dan lebih dari itu, saya ingin mengatakan bahwa saya sangat mengasihinya (sama seperti sebelum kesalahan itu terjadi) dan saya tidak mau kehilangan dia dan saat-saat manis bersamanya. Saya ingin dia tahu, walau sepertinya terjadi ’perang dingin’, tapi saya tidak pernah bersikap dingin terhadapnya. Saya terus memperhatikannya, saya membelikan hadiah untuknya, yang sudah tidak sabar untuk saya berikan ketika dia datang menemui saya. Bahkan saya tidak pernah berhenti mendoakannya. Hm.. andai dia tahu.
Keadaanku membuatku teringat akan apa yang Tuhan lakukan buatku dan buat kita semua orang berdosa. Dia tidak pernah bosan menunggu kita datang kepadaNya. Walau saya sering menyakiti hatiNya, Dia selalu mengampuni saya. Sama seperti yang tertulis pada Mikha 7:18: ”Siapakah Allah seperti Engkau, yang mengampuni dosa dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milikNya sendiri; yang tidak bertahan dalam murkaNya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia.” Ibrani 10:17, ”dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.”
Tapi seringkali kita menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Kita mengeraskan hati dan tidak mau mengakui dosa kita, merasa diri benar dan tidak membutuhkan Tuhan. Jika itu yang terus kita pertahankan dalam hidup kita, kita akan merugi besar sekali. Kita akan kehilangan saat-saat indah bersama Tuhan dan hidup dalam neraka kebinasaan. Semua hadiah indah yang Tuhan siapkan tidak akan pernah menjadi bagian orang-orang yang tidak mau datang mengakui dosa dan memohon pengampunanNya.
Syukurlah, pengalaman ini membuat saya kembali diajak menghayati karya Tuhan dalam hidup saya. Saya yang hanya manusia biasa seperti ini saja bisa memiliki kasih dan kerinduan untuk menanti orang yang bersalah kepada saya, ntah bagaimana dengan Tuhan. Kasih dan kerinduanNya sejuta kali lipat (bahkan lebih) dibandingkan yang saya rasakan saat ini. Hhm... saya bersyukur, saya pernah mengalami saat terindah bersamaNya ketika menyadari banyaknya dosa saya dan ternyata masih ada satu Pribadi, yaitu Kristus yang menerima saya dan mengampuni saya. Sehingga sampai dengan hari ini (dan saya percaya untuk seterusnya)... saya menemukan sukacita hidup di dalam Dia yang tidak terkatakan.

Saya salah dan dia benar
Inilah sisi yang lain dalam pergumulan saya ketika dihadapkan pada situasi konflik dan perang dingin dengan orang yang saya ceritakan di atas. Ketika pikiran ini muncul, maka seharusnya yang saya lakukan adalah datang kepadanya dan meminta maaf. Ya, ini yang akan saya lakukan (kalau batas waktu menunggu dia yang saya tetapkan sudah habis sementara dia tak kunjung datang). Jangan samakan saya dengan Tuhan dalam hal ini. Kalau Tuhan akhirnya yang datang menemui kita yang berdosa, bukan karena Dia salah dan kita benar, tetapi karena kasihNya yang luar biasa. Sehingga walau Dia ngga salah, Dia mau diperhitungkan sama dengan kita yang berdosa. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (II Korintus 5:21).
Karena saya manusia biasa, bisa jadi sebenarnya yang membuat dia tidak datang adalah karena saya dinyatakan bersalah olehnya. Dan bila waktunya telah tiba, saya tidak merasakan ada sedikit ganjalan dan ketakutan untuk datang meminta maaf kepadanya. Sebab saya tahu, ia juga mengasihi saya dan akan bersedia memaafkan saya. Itu membuat saya berani datang, seburuk apa pun kesalahan saya di matanya, ia pasti akan tetap memaafkan saya.
Lagi-lagi ini mengingatkan saya akan Tuhan. Harusnya kita yang berdosa, kita tidak perlu takut menghadap Dia. Kita tidak boleh terus merasa terhukum dan tidak mau menghampiriNya. Sebab kasih karuniaNya telah memberikan jalan bagi kita untuk berani menghadap tahtaNya, sama seperti yang tertulis dalam Ibrani 4:16, ”Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya".

Pengalaman saya adalah pengalaman umum yang biasa terjadi dalam relasi antar manusia, dalam konteks hubungan apa pun yang melatarbelakanginya. Karena itu, ketika mungkin Anda pernah ada dalam posisi merasa benar dan menunggu orang lain datang meminta maaf kepada Anda, jadikan itu kesempatan untuk menghayati kasih dan kerinduan Kristus menunggu Anda setiap harinya. Jika itu bisa Anda hayati, maka andai kata orang itu tak kunjung datang meminta maaf, maka pasti Anda tidak akan sanggup menahan diri untuk segera datang dan menunjukkan kasih Anda kepadanya. Jangan menunggu lebih lama lagi...
Bila Anda pernah berbuat salah dan tidak berani mengakui kesalahan Anda. Dan kini relasi Anda menjadi buruk, hidup Anda terganggu dengan rasa bersalah... tidak ada salahnya Anda berani mencoba untuk meminta maaf kepadanya, siapa tahu dia sudah lama menunggu Anda datang. Jangan keraskan hatimu...

Jarak antara hukuman dan pengampunan hanya sejauh kata maaf.
Berilah maaf agar orang lain lepas dari keadaan terhukum.
Memintalah maaf agar Anda beroleh pengampunan.

klik ini untuk baca selanjutnya

GOD dwells in me



Sebenarnya tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya "God is no where - God is now here" ....
Masih tentang acara perenungan subuh dengan para remajaku... sewaktu mereka kembali ke saya dengan membawa benda dan cerita masing-masing bagaimana mereka ketemu Tuhan di sekitar lokasi acara, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, menarik banget sih....tapi ada 1 hal yang bikin saya ngga puas... :(


Mereka ketemu Tuhan melalui hiasan dinding yang berisi ayat-ayat Alkitab, ketemu Tuhan di botol obat, ketemu Tuhan di parkiran, ketemu Tuhan di udara, dll..... Tapi kok....Ngga ada satupun yang bilang menemukan Tuhan dalam diri temannya.... hhmm! Bayangkan betapa indahnya bila ada salah seorang dari mereka yang berkata, "Kak, saya ketemu Tuhan ada di dia!" (bayangan saya adalah sambil ia menunjuk ke salah satu teman mereka). Entahlah! Ngga kepikir atau memang tidak bisa melihat ada Tuhan yang dinyatakan dalam diri teman-temannya, salah satu lah minimal...
Ini membuat saya merenungkan, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah firman Tuhan berkata, "Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang...kamu adalah surat Kristus...!" (2 Korintus 3: 2-3)
Bahkan kalau mau mengingat siapa kita sebenarnya, bukankah sejak permulaan Allah telah menjadikan kita sesuai gambar dan rupaNya (Kejadian 1:26). Hmm.. apa yang terjadi pagi itu menyadarkan saya dan semua adik-adik saya yang mengikuti acara tersebut, jangan-jangan memang hidup kita tidak atau jauh sekali dalam hal kemiripan dengan Tuhan. Sampai-sampai orang tidak melihat ada Tuhan dalam hidup kita. Mungkin cara kita berbicara, mungkin keputusan-keputusan yang kita buat, cara kita menghadapi persoalan, bahkan termasuk cara kita bercanda, ngga ada mirip-miripnya dengan cara hidup Tuhan. Sedih ya... :(
Bisa saja sih kita membela diri dan berkata, "Ah! Manusia kan ngga ada yang sempurna. Mana bisa manusia menjadi seperti Tuhan!" atau bisa saja kita berkata, "Itu kan cuma soal tuntunan orang lain yang cenderung berlebihan!"
Terserah sih orang mau berkata apa, tetapi mungkin kita perlu sedikit merendahkan hati, menutup telinga dari semua dalih tersebut dan dalam keheningan mendengarkan suara hati kita sendiri yang menggelitik, "Sudah sebaik apa kamu menyatakan keberadaan Kristus dalam hidupmu? Sudah seberapa besar perjuanganmu untuk hidup serupa denganNya?" Jangan sampai orang justru bukan melihat Kristus, tapi malah melihat monster yang menakutkan dalam diri kita melalui kata-kata kita yang kasar, hawa nafsu yang liar dan tak terkendali, amarah yang meledak-ledak, kebencian yang tak mereda walau waktu terus berlalu.
Ini PR kita semua... sehingga orang lain ngga sulit-sulit untuk mengenali Allah, sebab mereka bisa mengenaliNya melalui kita, yang tidak lain adalah anak-anakNya.
Selamat berjuang untuk makin mirip dengan Bapa kita!

klik ini untuk baca selanjutnya

28 September 2009

God is no where - God is now here!


Sulit untuk percaya kalau tidak ada buktinya!
Ngga tentu benar kalau tidak lihat dengan mata kepala sendiri!
Mana bisa dipercaya? Lihat saja tidak!

Yuph! Ungkapan yang seringkali kita dengar dan mungkin juga sering kita lontarkan dalam percakapan kita sehari-hari. Memang ngga mudah untuk mempercayai sesuatu yang tidak kita lihat. Apalagi kalau "Tuhan" yang kita maksudkan dalam hal ini. Ehm...masih aja ada orang-orang yang dengan mudahnya berkata tidak percaya kepada Tuhan karena ia tidak dapat melihatNya.

Orang-orang seperti itu perlu belajar dari adik-adik remaja saya. Hehehe. Menulis tentang ini membuat saya teringat akan pengalaman menarik dengan mereka beberapa hari lalu. Libur Lebaran biasa diisi dengan kegiatan camp, retreat, live in, dan sejenisnya. Tapi tahun ini kosong. Ngga ada program coz udah dilakukan di bulan-bulan sebelumnya dan anggaran dah habis (benernya pingin ada kegiatan luar kota. Siapa mau bantu donasi? hub saya, wkwkwkwk..). Tapi kami ngga mau melewatkan liburan begitu saja. So, kami buat acara kecil-kecilan...ngumpul-ngumpul gitu buat kegiatan yang bermanfaat untuk mengakrabkan dan menyehatkan jasmani rohani. Lokal aja sih tempatnya, minim budget, tapi boros manfaatnya..(ceilee).. Sekitar 30-35 remaja bergabung, mulai jam 5 pagi.
Seperti biasa, mengawali semua kegiatan kami berdoa dulu...mengambil waktu khusus buat merenungkan tentang Tuhan. Hari itu saya ngga kotbah atau bicara panjang lebar. Mereka juga ngga saya suruh baca ayat panjang dan lama. Saya hanya menginstruksikan mereka untuk berkeliling lokasi acara dalam waktu max 5 menit... tugas mereka adalah "Finding GOD". Yuph..cuman itu! Temukan Tuhan di sekitar kita.
Yang pasti...saya bukan panteis dan teman-temannya. Saya tidak sedang mengajak mereka percaya bahwa segala sesuatu adalah Tuhan dan menyembah segala sesuatu yang adalah Tuhan itu. Saya hanya ingin menguji kepekaan mereka terhadap kehadiran Tuhan dalam berbagai cara di hidup mereka. Sebab mungkin kesibukan sekolah membuat mereka sudah ngga sempat lagi menghayati dan mensyukuri kehadiran Tuhan, bahkan tanpa sadar sudah tidak lagi menghormati kehadiranNya... :(
Sungguh di luar dugaan, tidak sampai 5 menit mereka sudah 'menemukan Tuhan'. Hebat! Ada yang menemukan Tuhan ada di hiasan dinding yang mencamtumkan ayat-ayat Alkitab (buah Roh misalnya). Si penemu berkata bahwa melalui tulisan itu dia diingatkan akan Tuhan dan firmanNya. Ada juga yang 'menemukan Tuhan' di botol bekas obat (dia mengambil dari poliklinik kami). Si penemu berkata, "Melihat botol itu ia ingat bahwa kepandaian manusia menemukan obat-obatan tidak lain menunjukkan kehebatan Tuhan sebagai pencipta manusia. Lucunya, ada juga yang menemukan Tuhan di parkiran motor. Katanya, dia menemukan Tuhan di situ karena kalau tidak ada Tuhan, ngga mungkin selamat sampai di tempat acara.
Nah, ngga sulit kan sebenarnya menemukan Tuhan. Apalagi kita percaya Ia mahahadir. Jika memang kita berkata Dia mahahadir, Dia menyertai (Imanuel)...kenapa kita masih sering takut? kenapa kita masih berani berbuat yang aneh-aneh, yang jahat, seakan-akan Tuhan ngga bisa melihat apa yang kita buat?! Kalau kita masih terus dikuasai ketakutan, kalau kita masih nyantai aja berbuat dosa tanpa takut, hati-hati teman! Mungkin jangan-jangan kita ngga pernah yakin bahwa Ia ada dan hadir. Lebih buruk dari itu adalah... (sory to say..) kita tahu DIA hadir, tapi kita tidak mau menghormatiNya..kita mengacuhkanNya dengan sengaja. Oh no!
So, dimana Tuhan dalam hidupmu? Can u find him? Do u realize his present? Do you respect on him? Bukan kata-katamu yang menjawab, tapi cara hidupmu menunjukkan jelas jawaban yg sebenarnya darimu. Seperti yang tertulis dalam firmanNya,

"Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintahNya."
- 1 Yohanes 5:3 -

klik ini untuk baca selanjutnya